asked in Social Media & Komunikasi Online by (210 points)
Beberapa tahun belakangan ini saya perhatikan makin banyak brand besar — bahkan yang sebelumnya kaku dan formal — sekarang admin medsosnya pakai gaya bicara yang santai, kadang sarkas, kadang "savage", dan pake banget bahasa gaul anak muda. Yang bikin saya penasaran: kenapa mereka berani ambil risiko kayak gini? Terus apa bener sih strategi ini efektif buat engagement atau malah bikin brand keliatan kurang profesional?

5 Answers

answered by (460 points)
 
Best answer
Ini soal pergeseran ekspektasi audiens, Mas. Dulu orang lihat brand sebagai institusi yang harus formal. Sekarang, terutama di sosial media, audiens pengen interaksi yang terasa manusiawi dan relatable. Gaya "savage" itu sebenernya cara brand buat ngasih kepribadian ke akun mereka. Risikonya emang ada — kalau terlalu dipaksain bisa keceplosan. Tapi kalau natural, engagement-nya biasanya naik signifikan.
answered by (160 points)
Efektif atau enggak tergantung target pasar dan konsistensi brand. Brand kayak Netflix, Wendy's, atau Tokopedia di Indonesia pake gaya ini karena target mereka emang Gen Z dan Milenial. Tapi kalau brand di sektor formal kayak asuransi atau perbankan, gaya ini bisa kontraproduktif. Kuncinya: kenali audiens lo, jangan cuma ikut-ikutan trend.
answered by (160 points)
Dari sisi psikologi konsumen, gaya bahasa yang santai dan humoris bikin brand terasa lebih dekat dan trustworthy. Ada research juga yang bilang kalau humor meningkatkan brand recall. Tapi harus hati-hati sama timing. Contoh: pas lagi ada tragedi nasional, brand yang tiba-tiba "savage" di feed pasti bakal kena backlash. Jadi pinter-pinter baca situasi.
answered by (160 points)
Menurut saya ini natural aja sih mengikuti dinamika platform. LinkedIn beda sama Twitter/X, Twitter/X beda sama TikTok. Brand besar sekarang paham bahwa tone of voice harus disesuaikan sama platform dan segmentasinya. Yang pinter itu mereka punya multi persona — formal di official channel, santai di channel medsos. Itu strategi yang jauh lebih aman daripada seragam semua.
answered by (160 points)
Saya tambahin dari sisi data: brand yang pake "human voice" di medsos biasanya dapet 2-3x lipat engagement rate dibanding yang kaku. Tapi perlu diingat, "savage" itu beda sama "kasar". Banyak yang salah kaprah — kira-nya pake kata "anjir" atau "bego" itu keren, padahal itu bisa ngerusak reputasi brand. Kuncinya: tetap santun meskipun santai.
Forum Info Teknologi terkini dari para ahli industri Indonesia. Techmind membawa teknologi dunia, lebih dekat dengan masyarakat Indonesia. #beritateknologi.
...